LINTAS9 || Di balik geliat industri dan pelabuhan yang mendominasi wajah Kabupaten Gresik, tersimpan satu sajian khas yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas lokal: nasi krawu. Makanan ini bukan sekadar hidangan tradisional, melainkan hasil akulturasi budaya yang berakar dari para perantau Madura yang menetap di Gresik sejak abad ke-18. Mereka membawa tradisi memasak nasi dengan lauk daging suwir dan serundeng, yang kemudian bertransformasi mengikuti cita rasa masyarakat pesisir Jawa Timur.
Istilah “krawu” diyakini berasal dari penyebutan lokal terhadap bentuk lauknya yang disuwir halus dan tampak berserakan. Keunikan nasi krawu terletak pada penyajiannya yang menggunakan alas daun pisang, lengkap dengan nasi putih pulen, daging sapi suwir, jeroan, serundeng kelapa, dan sambal petis yang pedas menyengat. “Bagi kami, nasi krawu bukan cuma makanan, tapi juga warisan keluarga,” tutur Bu Marni, penjual nasi krawu generasi ketiga di sekitar Pasar Gresik.
Seiring berjalannya waktu, nasi krawu mengalami perkembangan yang mencerminkan dinamika sosial masyarakat Gresik. Dari warung sederhana di pinggir jalan hingga restoran modern, sajian ini tetap mempertahankan cita rasa aslinya. Kini, nasi krawu tak hanya digemari warga lokal, tetapi juga menjadi daya tarik wisata kuliner yang menarik perhatian pelancong dari berbagai daerah. Pemerintah daerah pun mulai mengangkat nasi krawu sebagai bagian dari promosi budaya dan ekonomi kreatif.
Meski telah melewati berbagai zaman, nasi krawu tetap menjadi simbol keterbukaan dan keberagaman di Gresik. Dari dapur para pendatang hingga menjadi ikon kuliner daerah, perjalanan nasi krawu mencerminkan bagaimana rasa mampu menjembatani sejarah, identitas, dan masa depan








