MOJOKERTO || Menjelang detik-detik peringatan 80 Tahun Kemerdekaan RI, gang sempit RT 25 di Desa Kedungmaling, Mojokerto, berubah jadi panggung protes sosial yang memukau. Puluhan warga bergotong royong semalaman penuh, menyulap tembok kusam dan lembaran seng tua berkarat menjadi galeri seni kontroversial. Di dinding-dinding gang, para pahlawan kemerdekaan seperti Soekarno dan Hatta berdampingan dengan tokoh-tokoh epik Majapahit seperti Gajah Mada, sementara gapura dari bahan rongsokan menyala dengan pesan politik yang menyengat.
Kreasi ini lahir dari tangan pemuda lokal yang bekerja tanpa henti sejak pukul 19.00 hingga fajar menyingsing. Ketua RT 25, Muhammad Basuki, mengungkapkan filosofi tajam di balik material bekas tersebut: “Seng berkarat ini simbol pemerintah yang busuk. Kita pakai barang tak berharga untuk mencerminkan sistem rusak yang makan uang rakyat.” Tak cuma visual, kalimat pedas seperti ‘Penguasa makan uang, rakyat makan utang’ sengaja ditorehkan sebagai cermin realita warga.
Meski mengaku waswas, Basuki bersikukuh ini adalah suara kolektif yang tak bisa dibungkam. “Aspirasi kami tak tertampung. Melawan pemerintah itu seperti lawan gajah, tapi ini warisan untuk anak cucu: biar mereka tahu di gang ini pernah lahir perlawanan dari barang busuk,” tegasnya. Karya yang dibuat hanya dalam 8 jam itu kini jadi magnet warga sekitar, sekaligus tamparan kreatif bagi penguasa yang dianggap abai.









