LINTAS9|| UJUNGPANGKAH, GRESIK – Jembatan yang kini berdiri di Desa Ngemboh bukan lagi jembatan yang dulu. Lebarnya berlipat, tebal strukturnya jauh bertambah, dan rangka tulangannya dirancang menerus hingga ke bagian bawah. PT Orela Shipyard, lewat program Corporate Social Responsibility (CSR) tahun 2026, tidak sekadar mengganti bangunan yang ambrol, tetapi membangun ulang dengan spesifikasi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Perbandingannya tampak nyata di atas kertas. Jembatan lama hanya memiliki ketebalan sekitar 10 sampai 12 sentimeter dengan besi berdiameter 10 milimeter. Kini ketebalannya melonjak menjadi 40 sentimeter. Lebar jembatan diperluas dari sekitar empat meter menjadi delapan meter, sementara lebar jalurnya bertambah dari sekitar tiga meter menjadi empat meter. Direktur Ship Repair & Facility PT Orela Shipyard, Indrio Nugroho, menyebut peningkatan itu sangat signifikan. “Jembatan lama hanya memiliki ketebalan sekitar 10 sampai 12 sentimeter dengan besi berdiameter 10 milimeter. Sekarang, lebar jembatan kami perluas dari sekitar 4 meter menjadi 8 meter, dan lebar jalurnya dari sekitar 3 meter menjadi 4 meter,” ujarnya.
Ada satu detail teknis yang menurut Indrio menentukan kekuatan struktur baru ini. Tulangan balok dibuat menerus sampai ke bagian bawah, sehingga beban tersalurkan lebih merata. “Ketebalannya kami tingkatkan dari 10 sampai 12 sentimeter menjadi 40 sentimeter, dilengkapi tulangan balok yang dibuat menerus hingga ke bagian bawah, sehingga struktur jembatan jauh lebih kokoh,” katanya.
Pilihan jatuh pada Jembatan Ngemboh bukan tanpa alasan. Indrio menjelaskan ada dua pertimbangan utama. Kondisi jembatan sudah tidak layak dilalui dan membahayakan warga, dan lokasinya berada di ring satu wilayah operasional perusahaan. “Pemilihan Jembatan Ngemboh didasari oleh dua pertimbangan. Pertama, kondisi jembatan sudah tidak layak dilalui dan membahayakan masyarakat sekitar yang melintasinya. Kedua, jembatan tersebut berada di ring satu wilayah operasional perusahaan kami, sehingga menjadi prioritas kami,” tuturnya.
Angka investasinya pun tidak kecil. Biaya konstruksi jembatan permanen saja menembus lebih dari Rp400 juta. Namun total dana yang digelontorkan mendekati Rp700 juta, sebab perusahaan juga membangun jalur pengalihan agar aktivitas warga tidak lumpuh. Jembatan sementara itu berkonstruksi baja, profil IWF, dan pelat, sehingga ongkosnya tidak murah. “Untuk nilai investasinya, biaya konstruksi jembatan itu sendiri mencapai lebih dari Rp400 juta. Namun, total keseluruhan mendekati Rp700 juta karena mencakup pembangunan jembatan sementara,” jelas Indrio.
Rinciannya terbagi dalam tiga tahap. Saat kerusakan mulai terjadi dan jalan berlubang, tim langsung menutupnya dengan pelat memakai alat berat. Setelah itu dibangun jembatan darurat sambil menunggu jembatan sementara rampung, lalu jembatan sementara difungsikan sebagai jalur alternatif selama pembangunan jembatan permanen berlangsung. “Kami memang memiliki stok pelat tersebut, tetapi tetap ada biaya yang dikeluarkan,” ungkapnya. Seluruh komponen itu, ditambah konstruksi permanen, berujung pada angka kisaran Rp700 juta.
Proses ini bermula dari layar ponsel. Kondisi jembatan yang viral di media sosial menjadi pemicu tim perusahaan bergerak, berkoordinasi dengan pemerintah desa, lalu naik ke kecamatan dan Dinas PUPR. Karena jembatan merupakan aset daerah, ada urusan administrasi yang tak bisa dilompati, mulai dari penghapusan aset hingga perizinan. “Gambar rencana pun kami ajukan kepada Dinas PUPR, dan seluruh masukan mereka kami ikuti agar sesuai dengan kebutuhan pengembangan ke depan,” kata Indrio.
Di tengah proses birokrasi itu, keselamatan dan kelancaran warga tetap didahulukan. Perusahaan memastikan jalan bisa dipakai selama izin diurus, dan pekerjaan permanen baru dimulai setelah seluruh prosedur tuntas sesuai arahan Dinas PUPR. “Meski demikian, prioritas utama kami adalah memastikan jalan tetap dapat digunakan masyarakat selama proses perizinan berlangsung,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa program ini menjadi wujud komunikasi dan sinergi dengan semua pihak berkepentingan.
Hasilnya kini bisa dilihat dan dilintasi setiap hari. Jembatan yang lebih lebar, lebih tebal, dan lebih kuat menjadi bukti bahwa tanggung jawab sosial perusahaan dapat diwujudkan dengan perencanaan matang dan kepatuhan pada aturan. Bagi warga Ngemboh dan pengguna jalan dari dua wilayah, jembatan ini bukan hanya pengganti yang rusak, melainkan peningkatan yang akan dirasakan manfaatnya dalam jangka panjang.@









