GRESIK || Kabupaten Gresik menutup peringatan Hari Jadi ke-539 dengan capaian yang patut dibanggakan. Di tengah riuhnya perayaan usia kabupaten yang hampir menyentuh enam abad ini, sebuah penghargaan nasional bergengsi resmi disematkan penghargaan Adipura 2026 sebagai pengakuan pemerintah pusat atas keberhasilan Gresik dalam mengelola kebersihan dan lingkungan hidup secara berkelanjutan.
Untuk merayakannya, Pemerintah Kabupaten Gresik menggelar prosesi Kirab Adipura pada Jumat, 27 Februari 2026. Iring-iringan kendaraan kirab diberangkatkan dari kawasan Stadion GEJOS atau Gelora Joko Samudro tepat pukul 13.00 WIB, setelah seluruh peserta menyelesaikan koordinasi dan persiapan teknis di titik kumpul tersebut. Rute kirab melewati sejumlah jalan protokol Gresik, yakni Jalan Veteran, Jalan Panglima Sudirman, dan Jalan Jaksa Agung Suprapto, sebelum iring-iringan berakhir di kawasan WEP sebagai garis finish perayaan.
Memasuki pukul 15.00 WIB, suasana berganti menjadi lebih khidmat ketika upacara seremoni resmi dimulai. Lagu kebangsaan Indonesia Raya mengawali prosesi, diikuti sambutan dari Master of Ceremony dan pembacaan doa bersama. Klimaks acara hadir ketika Bupati Gresik, H. Fandi Akhmad Yani, S.E., secara langsung menyerahkan Piala Adipura kepada Sekretaris Daerah, momen yang menjadi simbol bahwa penghargaan ini lahir dari sinergi seluruh jajaran pemerintahan dan warga Gresik.
Dalam keterangannya di hadapan peserta kirab, H. Fandi Akhmad Yani, S.E., menyampaikan rasa syukur sekaligus pengingat penting. “Penghargaan ini bukan jatuh dari langit. Ini adalah buah dari kerja keras seluruh lini, dari para petugas kebersihan yang berjuang setiap hari di bawah terik matahari, hingga seluruh elemen masyarakat yang terus membangun kesadaran lingkungan,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa trofi bukan satu-satunya target yang hendak dicapai. “Adipura bukan tujuan akhir, melainkan cermin evaluasi. Ia menjadi tolok ukur bagi kita untuk terus berinovasi dan berbenah di hari-hari ke depan,” lanjutnya.
Bupati Gresik H. Fandi Akhmad Yani, S.E., turut mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah. Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar soal membuang limbah pada tempatnya, melainkan menyangkut pola pikir yang lebih jauh. “Kita perlu mengubah cara pandang. Ini soal mindset, bagaimana kita mengubah sampah menjadi sumber daya yang bernilai,” tegasnya. Gresik sendiri tengah mengembangkan teknologi RDF atau Refuse Derived Fuel dan menjalin kolaborasi lintas daerah bersama kawasan Surabaya Raya dalam program Sampah Menjadi Energi sebagai wujud nyata dari visi tersebut.
H. Fandi Akhmad Yani, S.E., juga mengingatkan bahwa tanggung jawab pengelolaan lingkungan tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja. “Sampah bukan hanya urusan pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama: masyarakat, pelaku usaha, industri, hingga seluruh instansi swasta di Gresik,” katanya. Dunia usaha secara khusus diminta memanfaatkan program Deposit Refund System, yakni mesin penukar sampah menjadi uang, sekaligus memastikan seluruh sampah dari aktivitas karyawan dikelola secara mandiri di lokasi masing-masing. Kepada kawasan industri di Gresik, Bupati menyampaikan seruan tegas. “Industri besar harus menjadi pelopor, bukan penonton,” ujarnya singkat namun mengena.
Dua wilayah mendapat sorotan khusus dalam perayaan ini. Desa Randubotoh dinilai berhasil mendorong partisipasi aktif warganya melalui program biopori rumahan yang mengolah sampah organik menjadi enzim dan pupuk alami. Sementara Kelurahan Sukorame berhasil mentransformasi lingkungannya menjadi kawasan yang jauh lebih bersih, hijau, dan nyaman untuk dihuni. Sebagai bentuk penghargaan konkret, kedua wilayah tersebut menerima motor Tossa dari Pemerintah Kabupaten Gresik agar semangat warganya dalam menjalankan program kebersihan terus terjaga.
Di luar seremoni formal, H. Fandi Akhmad Yani, S.E., menyempatkan diri membagikan paket sembako langsung kepada Pasukan Kuning yang hadir. Petugas kebersihan yang sehari-hari bertugas menjaga kerapian sudut-sudut kota ini kerap bekerja jauh dari sorotan, namun kontribusi mereka dianggap menjadi fondasi utama keberhasilan Gresik meraih pengakuan nasional. Langkah ini menjadi pesan simbolik dari pemerintah daerah bahwa tidak ada kerja keras yang luput dari perhatian.
H. Fandi Akhmad Yani, S.E., menutup sambutannya dengan pesan yang langsung ditujukan kepada seluruh warga. “Piala ini bukan milik pemerintah semata, ia adalah simbol penghargaan kolektif untuk kita semua. Selamat Hari Jadi Kabupaten Gresik ke-539. Mari kita jaga Gresik tetap bersih, hijau, dan berdaya. Gresik Bersatu, Gresik Bersih, Gresik Maju,” pungkasnya di hadapan para hadirin. Seluruh rangkaian acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara pejabat daerah, peserta kirab, dan Pasukan Kuning sebagai dokumentasi atas pencapaian yang menjadi kebanggaan bersama.(Wan)









