Jejak Gelap Sindikat: Bilqis Hampir Dijual ke Luar Negeri

LINTAS9 || Bilqis, bocah empat tahun asal Makassar yang sempat dilaporkan hilang saat menemani ayahnya berolahraga, akhirnya ditemukan di Jambi setelah tujuh hari menghilang. Penemuan ini membuka tabir mengerikan tentang jaringan perdagangan manusia lintas provinsi yang terorganisir dan nyaris tak terdeteksi.

 

Menurut penyelidikan awal, Bilqis diduga dipindahkan melalui jalur laut dan darat dengan rute yang sangat sistematis. Ia pertama kali dibawa ke Surabaya menggunakan kapal, lalu dioper ke Sukoharjo lewat jalan darat. Dari sana, perjalanan berlanjut ke Jakarta, kemudian menyeberang ke Lampung melalui pelabuhan Merak menuju Bakauheni.

Baca juga:  Operasi Tumpas Narkoba 2023, Polda Jatim Amankan Tersangka Pengedar Jaringan Antar Pulau dan Provinsi

 

Perjalanan tak berhenti di sana. Dari Lampung, Bilqis dibawa ke Jambi, dan diduga akan diselundupkan ke Batam melalui pelabuhan Kuala Tungkal. “Kami menduga kuat Batam hanya transit terakhir sebelum korban dibawa ke luar negeri, kemungkinan besar ke Kamboja,” ujar seorang penyidik Jatanras yang enggan disebut namanya.

 

Beruntung, operasi lintas kesatuan kepolisian berhasil menghentikan perjalanan Bilqis di Jambi. Kecepatan penanganan menjadi kunci, karena sedikit saja terlambat, nasib Bilqis bisa berakhir tragis. “Kami berpacu dengan waktu. Setiap jam sangat menentukan,” kata sumber dari tim investigasi.

Baca juga:  Pembongkaran Tugu Perguruan Silat di Kecamatan Turi, Kapolres : Semoga Diikuti Perguruan Lainnya

 

Dari pola perpindahan yang rapi dan cepat, aparat menduga ini bukan sekadar penculikan biasa. Jaringan ini diduga kuat terlibat dalam perdagangan manusia dan organ, dengan sistem estafet antar pelaku di setiap titik transit. Bilqis bahkan disebut telah “dibeli” dari tangan pertama seharga Rp3 juta, dan nilai itu bisa melonjak hingga ratusan juta di tangan konsumen akhir.

 

Terungkapnya kasus ini tak lepas dari peran teknologi. Wajah pelaku berhasil tertangkap kamera CCTV beresolusi tinggi, yang memungkinkan identifikasi cepat dan pelacakan rute perjalanan korban. “Tanpa rekaman CCTV, kami mungkin kehilangan jejak,” ungkap petugas forensik digital.

Baca juga:  Kurang Dari Dua Pekan, 414 Tersangka Ditangkap Terkait Perdagangan Manusia

 

Kasus Bilqis menjadi pengingat bahwa human trafficking bukan sekadar isu global, tapi ancaman nyata di sekitar kita. Pemasangan CCTV di lingkungan perumahan dan dashcam di kendaraan pribadi kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk pencegahan dan penegakan hukum.

 

Semoga tak ada lagi anak-anak yang harus mengalami nasib seperti Bilqis. Dan bagi mereka yang masih hilang, harapan tetap menyala agar segera kembali ke pelukan keluarga.(Rul)