Sebuah Desa di Ponorogo Menghilang dari Peta, Berikut Kisahnya. 

PONOROGO || Nama Sumbulan di Dusun Krajan I, Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menghilang dari peta. Bagaimana enggak, lingkungan itu ditinggal oleh para penghuninya.

 

Enam tahun lalu, ada tiga kepala keluarga (KK) yang memutuskan untuk pindah. Setelah sebelumnya bertahan bertetangga hanya tiga keluarga saja. Bagaimana ceritanya?

 

Untuk ke Lingkungan Sumbulan, ada dua jalur yang bisa dilalui. Kamu bisa melewati jalur dari Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. Bisa juga dari Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo.

Baca juga:  Dorong Minat Baca dan Membumikan Semangat Literasi, Wabup Gresik Bu Min Resmikan Perpustakaan Digital

 

Jalur dari Desa Plalangan, medannya cukup menantang karena harus melalui persawahan. Kalau hujan jalanan tentu becek. Pun jika tidak hati-hati, kendaraan bakal terperosok.

 

Berbalik jika melintasi jalan via Kelurahan Setono. Jalanannya tetap ekstrem, bahkan kamu harus melintasi jembatan bambu untuk menuju Dusun Sumbulan.

 

Terlihat ada empat rumah permanen di lokasi. Ada yang nampak masih kokoh, dua rumah lagi sudah tertutup ilalang. Satu-satunya bangunan yang masih berdiri tegak adalah Masjid Sumbulan yang dilengkapi dengan beduk di depannya.

Baca juga:  Murka! Tersangka Pemerkosa Anak Kandung di Depok Tewas Dikeroyok Sesama Tahanan

 

Eks warga Kampung Sumbulan, Sumarno menyebutkan masjid tersebut merupakan peninggalan sebuah pondok pesantren yang didirikan sekitar tahun 1850-an oleh Nyai Murtadho saat masih bujang.

 

Nyai Murtadho ini mendirikan sebuah pesantren yang disebut Sumbulan pada tahun 1850. Ia adalah anak dari seorang ulama dari Demak.

 

Menurutnya, Pondok Pesantren semakin besar, santrinya pun banyak. Enggak hanya dari Ponorogo, bahkan dari luar Bumi Reog. Mereka pun mendirikan pondok semi permanen dan lama kelamaan menetap di Sumbulan.

Baca juga:  Bawa Sabu ke Rutan, Warga Ponorogo Terancam Kurungan Besi

 

Namun sepeninggal Nyai Murtadho dan keluarganya, pondok pesantren tersebut semakin sepi, bangunan kemudian roboh pada 1971 silam.

 

Hingga terakhir tahun 2016, kampung tersebut benar-benar kosong tanpa penghuni satu pun. Alasan Sumarno sendiri pindah dari Kampung Sumbulan karena akses jalan yang sulit. (iwan)